BERDAMAI DENGAN INNER CHILD

Dulu aku pikir 'inner child' adalah sesuatu yang tidak baik. Sering aku menonton film atau membaca novel, banyak cerita orang tua yang bersikap tidak baik kepada anaknya, kebanyakan karena memiliki perlakuan yang serupa di masa kecilnya. Aku pun merasa baik aku maupun orang tuaku memiliki masalah dengan inner child ini. Aku masih ingat dengan jelas sampai sekarang ketika kecil aku sering dibentak - bentak untuk hal yang sebenarnya wajar dilakukan oleh anak kecil. Kenapa aku bilang wajar karena dengan seiring aku bertumbuh dewasa aku melihat anak kecil yang memiliki tingkah laku seperti yang aku lakukan dulu tapi orang tuanya tidak bereaksi seperti orang tuaku.Dan seiring aku bertumbuh juga aku paham bahwa bentakan bukanlah yang seharusnya diterima oleh seorang anak, pun jika anak itu melakukan kesalahan. Dari pengalamanku itu aku ingin agar anakku tidak memiliki pengalaman tidak menyenangkan yang sama denganku. Ketika membesarkan anakku, aku berpikir jangan sampai inner child ku mempengaruhiku sehingga aku membentak - bentak anakku seperti aku dibentak orang tuaku dulu. Pemikiran adalah anakku tidak boleh merasakan yang aku rasakan dulu.

Nah lalu kemudian aku pernah ikut kulwap tentang inner child yang diadakan oleh akun instagram @sehatiibu. Dari kulwap itu aku tahu bahwa inner child tidak selalu buruk. Intinya lebih ke kita harus berdamai dengan inner child kita supaya inner child ini tidak menjadi buruk untuk kita. Dan ternyata lagi apabila kita terus menerus memiliki pemikiran bahwa anakku tidak boleh merasakan apa yang aku rasakan dulu, itu adalah juga suatu pertanda kita belum berdamai dengan inner child.

Isu inner child ini muncul kembali ke otakku ketika aku sedang mencari informasi terkait sekolah anak. Beberapa temanku mengatakan apabila kita menyekolahkan anak ke sekolah mahal, kita juga harus sanggup membiayai pergaulannya. Dia bilang jangan sampai anakmu seperti aku, sekolah di sekolah mahal tapi tidak punya teman karena torang tuaku tidak sanggup membiayai pergaulanku. Ada temanku yang lain bilang bahkan ada financial planner yang menyebutan bahwa kebutuhan bulanan anak harus disiapkan sebesar 2x SPP nya. Katakan SPP anak Rp1.000.000 makan pengeluaran bulanan untuk anak sendiri harus disiapkan sebesar Rp2.000.000. Temanku yang lain ini juga ingin anaknya tidak merasakan apa yang ia rasakan dulu. Dulu ia sering tidak bisa melakukan apa yang dilakukan teman - temannya sampai dia merasa bahwa dirinya tidak normal.

Tapi entah kenapa aku kurang sependapat dengan pemikiran itu. Aku ingin menyekolahkan anakku ke sekolah yang bagus dan memiliki fasilitas bagus, karena aku merasa sekolah yang bagus memiliki jaringan yang lebih baik untuk masa depan anakku. Tapi ya memang dari sisi financial mungkin aku tidak sanggup untuk membiayai pergaulan di sekolah itu. Tapi apa iya memang itu harus menjadi tolok ukur dalam mencari sekolah. Aku sendiri yang masa kecilku yang tumbuh besar di keluarga dengan finansial mengengah ke bawah dan bersekolah di lingkungan yang banyak murid yang berasal dari keluarga kaya merasa masa kecilku baik - baik saja. 

Sebenarnya ada sih rasa minder yang aku rasakan. Dan iya hal tersebut mempengaruhi perkembangan kepribadianku. Namun dengan seiring berjalannya waktu, seiring aku bertumbuh dewasa aku paham bahwa hal tersebut tidak seharusnya mempengaruhi aku. Hanya saja dulu orang tuaku tidak mendampingi aku melewati masa - masa itu, bahkan orang tuaku selalu bilang kita ini bukan orang kaya jadi tidak bisa begitu; yang mana menurut pengalamanku hal tersebut sangat mempengaruhi perkembangan kepribadianku.

Dengan aku yang sudah sedikit paham tentang inner child, dan juga aku yang sudah semakin bertumbuh; kalau aku sekarang hanya ingin fokus ke memberikan yang terbaik untuk anak. Dalam mengambil keputusan aku lebih fokus ke apakah itu baik untuk anakku, tidak lagi dilandasi dengan pemikiran anakku harus seperti aku atau anakku tidak boleh merasakan apa yang aku rasakan. Ke-aku-an itu membuat kita subjektif dalam mengambil keputusan, dan ke-aku-an itu menurutku bisa diminimalisir dengan cara berdamai dengan inner child. Mendampingi dan mengasuh anak dengan baik juga sangat penting agar anak kita tidak memiliki inner child yang nantinya akan mempengaruhi dia juga.

Alasan lain yang juga menjadi pertimbanganku adalah pada memang mungkin di masa kecil aku merasa kurang bahagia, minder, kecil hati, dll. Tapi ternyata perasaan itu bisa hilang. Ddengan perkembangan waktu aku paham apa yang dulu tidak aku miliki juga bukan segalanya. Apalagi setelah kulihat banyak temanku yang dulu nampaknya lebih bahagia atau keadaannya lebih baik dariku, sekarang berubah sebaliknya. Dan di beberapa keadaan kulihat temanku yang masa kecilnya terlalu dimanjakan dengan materi menjadi manja dalam menjalani hidup dan juga bukan otomatis menjadi orang yang berhasil seperti orang tuanya.

Kalau aku untuk saat ini tetap ingin menyekolahkan anakku di sekolah yang bagus yang memiliki fasilitas bagus. Mungkin nanti dia akan banyak bergaul dengan orang yang lebih kaya. Maka tugasku lah untuk mendampingin dia tanpa mengecilkan hatinya. Meberikan pengertian dan pemahaman tentang konsep rejeki dan konsep bahwa kita tidak harus selalu mengikuti society. Tugas berat memang, tapi menurutku kalau aku ingin anakku naik kelas dari kehidupan dia sekarang yang aku mampu berikan aku harus mulai memperkenalkan dengan kehidupan di atas kemampuanku itu. Karena kalau aku menyekolahkan anakku di sekolah yang sesuai batas kemampuanku maka pandangan hidup dia akan berhenti di situ, dan kemungkinan dia akan naik kelas kehidupan tidak sebesar apabila di sudah melihat kehidupan yang di atas kehidupan dia sekarang.

Wakaka maap ya kalo tulisan in ngga jelas atau membosankan. Mamak - mamak galau lagi butuh tempat mengeluarkan unek - unek.


Komentar

Postingan Populer