CERITA TENTANG TOILET TRAINING IWIL (PART 1)
Umur 2 tahun aku tidak akan mau terlalu pusing dengan BB anak, itu yang sudah aku niatkan. Setelah 2 tahun stres kejar-kejaran dengan tabel BB anak, aku merasa 2 tahun sudah cukup, sudah saatnya aku fokus ke hal lain. Sebagai seorang yang sangat mudah overthinking dan stres, ditambah orangnya idealis dan teoritis, membesarkan anak bukan hal yang mudah buatku. Stres karena kepikiran apakah pertumbuhan anakku on track sudah bukan hal yang sering lagi terjadi, bahkan mungkin itu yang menjadi pengantar tidurku. Membandingkan kondisi ideal sesuai teori dengan kenyataan sudah menjadi keseharianku. Tapi aku memutuskan cukup di 2 tahun saja aku pusing soal BB anak. Banyak hal lain yang harus dipikirkan dan diperbaiki,dan salah satunya adalah toilet training.
Ketika Iwil berumur 2 tahun, aku sebenarnya ingin menyapih terlebih dahulu. Sempat dilakukan beberapa hari tapi lalu aku memutuskan untuk berhenti, karena aku mendapat jadwal booster vaksin covid. Dari info yang kuperoleh, efek vaksin covid bisa sampai ke anak melalui ASI, jadi kupikir menyapih akan kulakukan 2 minggu setelah booster saja supaya Iwil mendapat efek dari vaksin yang kudapat. Sambil aku memikirkan metode apa yang tepat untuk menyapih Iwil.
Belum sampai 2 minggu sejak aku mendapat vaksin booster, suamiku terkena covid, dan itu membuat proses menyapih mundur lagi. Pertama karena aku tidak sanggup melewati proses itu sendirian tanpa dukungan suami, dan kedua karena aku dan suami sepakat memakai cara tidur terpisah untuk menyapih Iwil. Jadi selama ini Iwil sudah sering tidur malam tanpa nenen apabila tidur bersama suami karena aku sedang ada yang harus dilakukan. Tapi kalau tidur bersamaku, nenen tidak bisa dilarang, walaupun kadang sambil nenen dia akan bilang ‘habis, habis’. Jadi kami memutuskan akan membiasakan Iwil tidur bersama Yayah dulu sampai dia benar-benar terbiasa tidur tanpa nenen. Dan rencana menyapih otomatis tertunda dengan kondisi Yayah yang terkena covid itu.
Karena setelah negatif suami masih suka merasa lelah, menyapih juga masih belum bisa dilanjutkan. Akhirnya aku memutuskan untuk menunda menyapih dan mendahulukan toilet training. Aku sempat membaca di instragram Dokcit kalau menyapih tidak boleh sampai membuat anak stres. Salah satu cara untuk menghindari stres adalah tidak melalukan beberapa perubahan besar bersamaan, seperti misalnya menyapih sambil toilet training. Karena 2 hal ini yang sedang jadi concern utamaku, maka ketika aku memutuskan menunda untuk menyapih, aku memutuskan untuk melakukan toilet training dulu.
Toilet training menjadi salah satu concern utamaku adalah karena Iwil pengguna full pospak. Pengeluaran untuk membeli pospak selama sebulan lumayan banget, padahal cuma pakai sweety silver. Kupikir budget untuk membeli pospak mending dipakai buat beli mainan, atau untuk sekolah montessori, jadi aku ingin segera bisa mengajari Iwil untuk mau pipis di kamar mandi.
Hal yang pertama kulakukan saat aku memutuskan untuk melakukan toilet training adalah memberli sprei waterproof dan training pants. Sprei waterproof untuk melindungi kasur supaya kalau Iwil ngompol kasur nggak sampai basah. Sedangkan training pants supaya kalau Iwil ngompol, air pipisnya tidak luber ke lantai. Selain aku ingin meringankan beban kerja ART-ku, pipis yang luber ke lantai berpotensi membuat anak terpeleset. Jadi aku memutuskan menggunakan training pants selama masa toilet training.
Ternyata oh ternyata, training pants membuat toilet training Iwil tidak berjalan mulus. Dia ternyata tidak merasa terganggu dengan celananya yang basah. Dan karena tidak ada pipis yang meluber keluar, kami jadi tidak tahu kapan Iwil pipis, sehingga sulit bagi kami untuk memberi tahu kepada Iwil apa itu pipis. Sudah dicoba rutin ke kamar mandi sampai tiap setengah jam juga kami masih tidak bisa menemukan pola pipis Iwil. Yang ada anaknya bete karena sering diajak ke kamar mandi tanpa dia tahu apa yang harus dia lakukan di kamar mandi, karena dia masih clueless apa itu pipis. Sehingga lalu akhirnya aku memutuskan untuk memakai celana dalam biasa selama toilet training.
Apakah sekarang sudah berhasil? Berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk melakukan toilet training? Akan aku ceritakan di part 2 ya. Karena itu cerita yang seru banget buatku, sampai aku ingin banget menulisnya. Cerita toilet training ini punya banyak banget pembelajaran buatku sebagai seorang ibu, bukan cuma bagaimana mengajari anak tapi juga untuk refleksi kesalahan-kesalahan di masal lalu yang serasa bagai bom waktu yang baru meledak di masa kini.


Komentar
Posting Komentar