AKU MULAI PERCAYA EFEK VAKSIN COVID

Jadi di awal ada kabar mau ada vaksin covid, jujur aku sangat takut. Bukan apa-apa karena aku sempat baca berita bahwa pembuatan vaksin itu lama, nah ini baru satu tahun pandemi vaksin sudah tersedia. Aku sempat googling juga, bahwa ternyata vaksin tercepat yang pernah dibuat itu adalah vaksin gondongan dan dibuat dalam kurun waktu empat tahun. Nah ini covid gitu loh.. yang pada saat awal muncul kasusnya, tingkat keparahannya sangat mengerikan.

Namun karena aku adalah PNS, jadilah aku dapat batch vaksin awal-awal. Aku pasrah saja. Ketika hari saat jadwal vaksinku tiba, aku sudah bersiap membawa copaiba essential oil dari young living. Sesaat setelah disuntik tanganku terasa terbakar. Dan rasa panas itu menjalar sampai ke leher. Sampai di ruang tunggu aku segera mengoleskan copaiba oil ke bekas suntikan.. rasanya langsung nyessssss... ademm banget. Aku sempat posting tentang hal itu di instagram, lalu ada member young living yang DM aku. DIa bilang kalau setelah divaksin jangan langsung dikasih oil, nanti efek vaksinnya hilang karena virusnya terbunuh oleh essential oil. Berhubung aku masih ragu dengan vaksin covid, aku malah bersyukur aku langsung mengoleskan oil, tapi sejak saat itu aku tidak pernah posting lagi essential oil untuk vaksin.

Begitu yang selalu kulakukan saat vaksin, sampai akhirnya aku terkena covid yang kedua kalinya saat ini. Varian XBB yang katanya cukup ringan, lumayan berasa di aku. Bahkan jika kubandingkan dengan gejala covid yang aku alami saat aku positif di bulan Juli kemarin. Namun anehnya suamiku yang sekarang terkena covid untuk ketiga kalinya malah gejalanya cukup ringan, padahal di bulan Januari dan Juli kemarin ketika suami terkena covid, gejalanya cukup lumayan. Ada lah hari-hari di mana dia demam tinggi dan hanya bisa tiduran. Nah yang sekarang dia cuma bilang pusing dan gatal tenggorokan, sesekali kudengar dia bersin tapi hampir tidak pernah aku dengar dia batuk. Lalu aku terpikir apa mungkin ini efek vaksin? Jadi suamiku harusnya booster di 2 Februari, tapi PCR dia + di tnggal 31 Januari. Setelah itu suami belum sempat booster sampai akhirnya terkena covid lagi di bulan Juli. Di akhir Agustus akhirnya dia menyempatkan diri untuk booster. Sedangkan aku terkahir booster adalah di bulan Januari. Di bulan itu ketika suami terkena covid bahkan PCR aku tetap - dan aku tidak mengalami gejala setelah suamiku terkonfirmasi +. Jadi mungkin sekarang efek boosterku sudah expired sehingga gejala yang kurasakan cukup lumayan. 

Komentar