Opini tentang Gitasav

Dulu aku sempat menjadi follower dia, berawal dari tidak sengaja melihat postingan youtube dia tentang keputusan dia untuk memakai kerudung kembali. Menarik bagiku mengikuti ceritanya, yang dari memakai kerudung di Indonesia lalu melepasnya ketika tinggal di Jerman, dan kemudian terbuka lagi hatinya karena hidayah dari Allah SWT untuk kembali memakai kerudung. Kecerdasannya, dan pencarian jati dirinya membuatku memutuskan untuk mengikuti akun instagramnya dan sering melihat postingan youtube-nya.

Seiring berjalannya waktu aku mulai merasa tidak sejalan dengan pemikiran seorang Gitasav. Aku mulai merasa tidak ada yang bisa kupelajari dari postingan instagramnya ataupun melihat youtube-nya. Hal itu berawal dari pernyataan kontroversi pertama (yang aku tahu) yang dibuat oleh Gitasav, yaitu childfree. Bukan menolak paham childfree tapi sebagai seorang muslim, kita punya panduan utama yaitu Al-Quran dan Al-Hadist. Buat aku yang awam ini, dan masih perlu banyak belajar.. pemikiran Allah first yang lain kemudian, sungguh berat tapi kupercaya begitu benar adanya. Apakah dalam Islam dilarang memiliki pemahaman childfree? Yang aku pahami yang jelas dilarang dalam Islam adalah takut punya anak karena takut miskin, padahal rejeki seseorang ada di tangan Allah termasuk anak-anak kita sekalipun. Lalu bagaimana dengan menjaga jarak anak.. ini setahuku masih ada perdebatan antara yang membolehkan dan tidak, tapi mayoritas membolehkan terutama untuk alasan-alasan ingin memenuhi hak anak mendapat ASI sampai umur 2 tahun dan alasan kesehatan lainnya. Lalu bagaimana jika tidak berani punya anak karena merasa tidak mampu untuk menerima amanah tersebut? Di sinilah perlunya belajar untuk memantaskan diri. Dalam Islam, ketika seseorang merasa tidak mampu maka orang tersebut harus belajar. Menurutku jika Gitasav memang merasa belum mampu untuk memiliki anak cukuplah keinginan untuk childfree itu disimpan dalam hati dan dilanjutkan dengan proses pembelajaran untuk memantaskan diri. Dan begitulah akhirnya aku mulai me-unfollow seorang Gita Savitri Devi.

Sekarang dia ramai lagi diperbincangkan, karena opini dia tentang Qatar yang menolak simbol LGBT masuk ke negaranya. Aku sudah menonton video opininya di you tube, dan jujur aku bisa menangkap dan mengerti logika yang dia sampaikan. Dan sejujurnya lagi, logika ku pun sering mempertanyakan ini itu tentang agamaku, tapi rasa takutku terhadap azab Allah lebih besar.

Ngomong-ngomong soal logika, seorang temanku (bukan muslim) pernah bertanya kepadaku. Babi kan diharamkan karena mengandung cacing pita, dan sekarang ilmu pengetahun sudah membuktikan bahwa cacing pita bisa hilang kalau daging tersebut dimasak sampai matang. Lalu kenapa kalian tetap mengharamkannya? Dalam waktu yang cepat otakku berpikir, alhamdulillah pertolongan Allah membantuku berpikir. Kujawab, dalam Al-Quran daging babi diharamkan untuk dimakan tanpa disebutkan alasannya apa. Manusia dengan logika dan ilmu pengetahuannya mencoba untuk mencari tahu alasan dibalik diharamkannya daging babi itu. Salah satu yang menjadi logika manusia adalah adanya cacing pita di dalam daging babi. Tapi kita tidak pernah tahu alasan sesungguhnya dari diharamkannya daging babi itu, kita hanya diminta untuk taat dan patuh. Kalau kita mengedepankan logika, apa jadinya nasib manusia ribuan tahun lalu. Disaat ilmu pengetahuan mereka belum menemukan bahwa daging babi mengandung cacing pita dan logika mereka saat itu mungkin mengatakan bahwa babi sama saja seperti sapi sehingga tidak seharusnya diharamkan. Bisa jadi juga ribuan tahun mendatang ilmu pengetahuan manusia dapat mengungkap hal lain yang mungkin menjadi penyebab diharamkannya daging babi, dan itu bukan hanya sekedar cacing pita dan mungkin jauh lebih berbahaya dari itu. Sementara manusia masa kini dengan kesombongannya merasa sudah menemukan alasan dari diharamkannya daging babi dan sok paling tahu apa solusinya, lalu apa yang akan terjadi jika sebenarnya tidak seperti itu. Sungguh aku bersyukur dengan pertanyaan temanku, sehingga aku menjadi tahu apa itu sami'na wa attho'na. Sungguh tidak pantas manusia menyombongkan diri dengan logika dan ilmu pengetahuannya yang mungkin tidak seberapa ini.

Analogi tersebut yang mungkin bisa kusamakan dengan kasus LGBT. Ketika Gitasav menyamakan perlakuan kepada LGBT dengan perlakuan yang diterima dirinya sebagai minoritas, tentu itu bukan apple to apple. Dalam menjalankan agama Islam, kita tidak pernah diminta untuk memaksa seseorang masuk ke agama Islam. Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Disitulah akhirnya peran toleransi berada. Islam tidak memaksa seseorang untuk memeluk dan menjalankan agama Islam, dan contoh Rasulullah pun Islam membiarkan umat agama lain menjalankan ibadahnya selama tidak mengganggu umat muslim. Begita pula sebaliknya, Islam mengharapkan agar umat muslim diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah dan syariatnya termasuk untuk bisa tinggal dan memakai kerundung dan menjalankan ibadah di negara yang bukan mayoritas muslim. Jadi perlakuan yang seharusnya diterima seorang Gitasav sebagai seorang minoritas muslim di negara non muslim adalah bentuk toleransi dan contoh nyata dari tidak memaksakan suatu agama kepada seseorang. Lalu bagaimana dengan LGBT? Sayangnya dalam Al-Quran telah disebut dengan jelas bahwa kaum LGBT akan diazab dan tidak dapat diterima. Jadi jelas ya, ketika kamu beragama lain maka Islam tidak akan memaksa kamu untuk masuk agama Islam, silahkan kamu beribadah sesuai agamamu asal tidak mengganggu umat Islam. Sedangkan jika kamu LGBT maka Islam menolakmu. Begitulah memang ajarannya.

Memang begitulah adanya, ada hal-hal yang bisa ditoleransi ada yang tidak. Ada seseorang yang memberikan contoh di instagramnya. Kalau jati dirimu adalah suka memakai celana pendek lalu kamu ke Bali dan kamu mau masuk pura sementara di sana melarang kamu untuk memakai celana pendek apakah kamu mematuhinya tau kamu memaksa masuk dengan dalih HAM atau apapun? Itulah yang terjadi di Qatar. Toh awalnya yang dilarang hanya atribut LGBT. Kamu seorang LGBT atau bukan orang juga tidak akan tahu, cukup ikuti aturan pemerintah Qatar untuk tidak membawa atribut LGBT.

Kembali pada logika, apakah cukup untuk berpikir terserah kaum LGBT mau berbuat apa selama tidak mengganggu umat muslim, padahal jelas Allah mengadzab mereka dan menghancurkan mereka? Tentu aku tidak setuju ketika kita harus menghujat atau memaki mereka, tapi menerima mereka juga bukan hal yang benar. Manusia dengan iman lemah sepertiku juga sering mempetanyakan ini itu, tapi takutku kepada azab Allah terlalu besar. Ya Allah lindungilah aku dan keluargaku. Melihat kondisi sekarang aku hanya bisa berdoa agar aku dan keluargaku selamat dari cobaan dunia ini. Semoga aku bisa menjalankan amanahku yang salah satunya adalah mendidik anakku untuk menjadi manusia yang beriman. Karena aku sungguh takut dengan dunia masa depan yang akan dihadapi oleh anakku.

Komentar

Postingan Populer