CERITA TENTANG TOILET TRAINING IWIL PART 2
Melanjutkan cerita di part 1, disini aku akan cerita toilet training Iwil sejak dia mulai menggunakan celana dalam. Jadi setelah menggunakan celana dalam ketika dia pipis, otomatis pipisnya luber sampai ke lantai. Mulailah Iwil 'ngeh' apa itu pipis, tentunya sambil kami jelaskan bahwa itu pipis dan kalau kepengen pipis Iwil harus bilang, supaya bisa diantar ke kamar mandi. Setelah Iwil menyadari apa itu pipis, dia mulai secara refleks memberikan sinyal ketika dia kepengen pipis, yaitu dengan memegang tititnya. Kalau Iwil sudah mulai memegang tititnya, kami akan bilang 'kepengen pipis ya, yuk ke kamar mandi'.
Iwil pada awalnya nurut untuk diajak ke kamar mandi. Tapi ternyata ketika sampai di kamar mandi dia tidak langsung pipis, dan ketika pipis keluar dari titit, ternyata reaksi yang keluar adalah menangis ketakutan. Sejak itu dia susah diajak ke kamar mandi untuk pipis, dan kalau di kamar mandi dia lama banget pipisnya, yang akhirnya kusadari bahwa permasalahan utamanya adalah bahwa IWIL TAKUT PIPIS. Jadi Iwil takut ketika ada air keluar dari tititnya. Dia selama ini tidak sadar kalau tititnya bisa mengeluarkan pipis, dan ketika dia sadar akan hal itu, dia ketakutan.
Mundur sejenak, ketika menyadari bahwa permasalahan yang kuhadapi adalah ketakutan Iwil atas air pipis yang keluar dari tititnya, aku mencoba recall kebiasaan-kebiasaanku dulu. Ya memang sepertinya aku miss untuk memperkenalkan konsep pipis kepada Iwil. Memang sebaiknya walaupun memakai pospak, kita tetap mengenalkan konsep pipis kepada anak. Paling tidak ketika mandi lah, syukur2 kalau telaten tiap 2 jam sekali diajak ke kamar mandi. Nah itu aku skip kemarin. Jadi selama ini Iwil tidak ngeh bahwa tititnya bisa mengeluarkan pipis.
Selama dia masih ketakutan itu, reaksi Iwil ketika dia mau pipis adalah menahan pipis dan menangis. Aku terus-menerus menenangkan Iwil dan bilang kalau pipis itu sehat, kalau ditahan bisa sakit perut. Pada awalnya dia masih menangis dan menahan pipis, bisa sampai setengah jam dia menangis sampai akhirnya ngompol karena tidak bisa lagi menahan pipis. Bahkan ada suatu malam di mana Iwil terbangun jam 2 malam lalu menangis karena kepengen pipis tapi takut padahal lagi pakai pampers.
Tapi tidak ada badai yang tidak berlalu. Masa-masa itu akhirnya berganti juga dengan saat-saat manis di mana pengeluaran untuk membeli pospak jauh berkurang. Buah kesabaran menenangkan Iwil dan memberinya pengertian bahwa pipis itu sehat, akhirnya Iwil sudah tidak takut lagi dengan pipis dan mau bilang kalau mau pipis. Memang belum bisa dibilang 100% sukses, karena terkadang kalau malam masih suka ngompol, tapi untuk siang hari bisa dibilang tidak lagi memakai pospak. Mungkin cerita ini akan berlanjut ke part 3 ketika Iwil akhirnya juga tidak perlu memakai pospak di malam hari. Sekarang sih Iwil juga jarang memakai pospak di malam hari, lebih sering pakai training pants, tapi kalau dalam kondisi sakit masih sering aku pakaikan pospak.


Komentar
Posting Komentar